[Perempuan Inspiratif] Sugih Hartini


Hai #SahabatAPIK 👋🏻

Masih dalam rangka Hari Perempuan Internasional, kami ingin memperkenalkan salah satu perempuan inspiratif dari Kabupaten Bandung, Sugih Hartini✨ Beliau adalah seorang Koordinator Pendamping Kasus di Yayasan Sapa dan konselor di Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA).

Ibu Sugih Hartini berbagi kepada kami cerita pendampingan yang ia lakukan. Mulai dari hambatan hingga suka dukanya. Mau tau bagaimana Ia bisa menjadi sosok perempuan yang inspiratif? Simak cerita perjalanan Ibu Sugih Hartini dipostingan berikut yaaa!🥰✨

 Sugih Hartini

(Sapa Institute)


Sugih Hartini, seorang koordinator pendamping kasus dan komunitas di Yayasan Sapa Institute, pada awalnya ia tergabung dalam Komunitas Bale Istri di Majalaya, Kabupaten Bandung sebagai salah satu komunitas yang didampingi oleh Sapa Institute. Memiliki hobi memasak dan bercita-cita untuk berhasil memberdayakan perempuan Balle Istri secara pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Sembilan (9) tahun lamanya ia menjadi pendamping korban kekerasan seksual tentu memiliki banyak sekali cerita disetiap proses pendampingannya. Terjun awal atas dasar pengalaman dirinya sebagai penyintas KDRT  di tahun 2007 dan bergabung menjadi anggota di komunitas Bale Istri yang belajar berbagai ilmu tentang perempuan, kekerasan seksual serta pemberdayaan perempuan, menjadikan ia memiliki keinginan untuk mengadvokasi kasus kekerasan seksual seperti KDRT, human trafficking, dan kasus kekerasan lainnya.

Meski sempat mengalami kasus kekerasan secara psikis, tetapi empatinya kepada penyintas kekerasan yang lain terus tumbuh seiring berjalannya waktu dalam proses mendampingi berbagai kasus kekerasan seksual dan hingga ia memutuskan untuk menjadi pendamping serta bertekad untuk membantu sesama karna ia sadar bahwa didalam lingkungannya akses layanan untuk proses pendampingan seperti layanan hukum, psikolog, dll sangatlah terbatas bahkan beberapanya hanya terdapat di luar wilayah tersebut.

Adapun hambatan selain minimnya akses layanan yang berada disana, jangkauan transportasi untuk menuju lembaga layanan mitra sangatlah jauh, ia bisa menghabiskan waktu sekitar 2-3 jam untuk pergi ke Kota Bandung dan berkoordinasi dengan layanan hukum yang ada di Kota Bandung. Selain itu minimnya edukasi mengenai kekerasan seksual dan bagaimana cara untuk melaporkannya pun belum tersebar secara merata kepada masyarakat ataupun pemerintahan desanya. Salah satu contohnya adalah akses SKTM yang dapat digunakan untuk bantuan layanan hukum dengan beberapa prosedur khususnya dan kebijakan visum dalam kawasan polsek yang pernah diselewengkan beberapa oknum menjadi memiliki biaya tambahan padahal aslinya gratis, informasi tersebut masih banyak yang belum diketahui oleh masyarakat desa hingga mereka seringkali terjebak dan tidak melaporkan kasus kekerasannya secara lanjut.

Akan tetapi dengan berbagai kesulitan akses yang didapatkan, tidak membuat usahanya padam, ia beserta Sapa Institute selalu berusaha untuk membuat terobosan dan melakukan beberapa kegiatan bersama dengan Bale Istri, seperti halnya membuat pertemuan rutin sebulan sekali untuk berbagi cerita, sosialisasi, dan menyampaikan beberapa materi tentang isu perempuan atau hak perempuan. Pertemuan itu untuk memperkuat koordinasi komunitas dengan Sapa Institute.

Sebagai pendamping penyintas kekerasan seksual ia juga memiliki beberapa struggling dalam prosesnya. Banyak resiko yang ia hadapi seperti ancaman, ketakutan dan juga proses pendampingan yang memiliki tanggung jawab besar belum lagi dengan background sebagai single parents yang harus menghidupi anaknya secara mandiri, namun hal itu ia jalani dengan semangat untuk membantu penyintas-penyintas yang melapor juga untuk menghidupi anak-anaknya supaya lebih sejahtera. Sebagai pendamping kasus sekaligus sebagai ibu dari tiga orang anaknya, ia adalah sosok yang miliki tingkat perjuangan hidupnya yang tinggi.

“Menumbuhkan rasa empati, rasa tanggung jawab, rasa dari panggilan hati, panggilan jiwa pastinya akan lebih merasakan ikhlas, syukur dengan apapun, kalo perihal materi gak usah terlalu dipikirin insyallah dengan menolong orang lain pasti mendapat balasannya dengan bentuk apapun dalam tangan tangan yang lain.” – Sugih Hartini

#ParalegalMudaLBHAPIKJakarta 
#DengardanSuarakan
#MendobrakBias
#IWD2022
advertise

Subscribe Text

Untuk selalu terhubung dengan kami